Monday, April 9, 2012

Rumpaka surupan Pelog Jejemplangan (Tatalegongan/Jemplang Bangkong)


1.      Tatalegongan/Jemplang Bangkong

Bangkong dikongkorong kujang
ka cai kundang cameti, da kole
kole di buah hanggasa
ulah ngomong samemeh leumpang,
da hirup
hirup katungkul ku pati
paeh teu nyaho di mangsa


terjemah :
Katak berkangkalung kujang
memasuki air bersandang cemeti, kole
kole pada buah hanggasa
jangan berbicara sebelum berjalan, dalam
hidup
hidup ditunggu maut
ajal tak tahu kapan

Rumpaka ini di-tembang-kan dalam surupan Pelog Jejemplangan, tidak terikat oleh
pupuh, penulis Anonim. Dilihat dari isinya kemungkinan digubah oleh seorang sufi. “Teks diperoleh oleh R. Bakang Abubakar dari gurunya pada tahun 1944 (Ischak, 1988: 31).
Tatalegongan dipandang dari sudut arti sebagai satu rangkaian informasi mengungkapkan
tentang pengembaraan.
”Katak” pada teks-teks naskah teosofi Tasawuf sebagai teks hipogram, simbol dari salik
(pencari jalan menuju Allah), yaitu orang yang senantiasa menghadirkan Allah dalam dirinya atau yang lazim disebut Manunggaling kaula-Gusti dengan ungkapan bangkong
ngaheungheum liangna ‘katak mengulum lubangnya’ (Lihat Wawacan Gandasari dan
Wawacan Buana Wisesa). Katak dianalogi sebagai simbol salik, karena selanjutnya muncul wejangan yang bersifat religius.

Katak pada teks dituturkan berkalung kujang. Kujang, yaitu sejata para raja Sunda jaman
kuna yang bersifat sakral dan religius. Kata ”Kujang” dalam teks hipogram sebagai berikut:
wanci nyaring jeung caringcing, geus beurang geura bral miang, wangkingan pusaka
kujang, tamengna wawanen hate, pangraksana ku iatna’((Ischak, 1988: 13) artinya: ’masa
terjaga dan bersiaga, sudah siang berangkatlah, pegangan dengan pusaka kujang, dengan
tameng keberanian hati, dilindungi oleh kehati-hatian’

Kole adalah nama sejenis pisang. Kole dalam teks hipogram mantra pengobatan, simbol
dari kenyamanan: tiis alahbatan birit leuwi, comrek alahbatan hate kole ’lebih dingin
daripada lubuk sungai yang dalam, lebih dingin daripada bagian dalam batang pisang kole’.
Hanggasa semacam buah yang enak dimakan.
Pada bagian akhir diungkapkan nasihat ”janganlah berbicara sebelum menjalani sesuatu
(tidak tekebur), dalam kehidupan. Hipogram bagian ini terdapat pada teks Wawacan Buwana Wisesa tentang menutup lubang mulut, maksudnya tidak berkata yang sia-sia supaya amal tidak berceceran. Pengertian ’hidup’ memiliki makna ganda, pertama hidup menjalani kehidupan, kedua dalam Ajaran Teosofi Tasawuf ’hidup’ diartikan menghidupkan hati untuk selalu berdzikir kepada Allah (Lihat wawacan Jaka Ula Jaka Uli dan Wawacan Pulan Palin).

Ungkapan terakhir, hidup dinanti oleh ajal, waktunya pun kapan, kita tak tahu.
Penerapan teks hipogram pada Tatalegongan dengan ekserp ’excerpt’ (pengintisarian)
dan modifikasi ’modification’ (pengubahan) (Lihat Sardjono, 1986). Fungsi semiotik
penerapan hipogram memperdalam makna. Matriks dari teks ini adalah, pengembaraan di
jalan Allah. Tatalegongan mengungkapkan kehati-hatian dalam menjalani hidup. Katak yang kehidupannya nyaman di air yang disimbulkan oleh kole, namun selalu membekali diri dengan cemeti.
Hal ini memiliki makna bahwa subjek walau dalam ketenangan namun selalu
mencambuk dirinya supaya tak etrlena oleh kesenangan duniawi hanggasa, yang
mejerumuskan dirinya.

Nasihat dari rumpaka ini, janganlah tekebur, berdzikirlah di hati selalu, jangan terlena
oleh dunia, hidup selalu ditunggu ajal
….
Sumber : naskah dan Doa dalam tembang cianjuran

No comments:

Post a Comment

Post a Comment